TV Online – Siapa Cirus Sinaga?

Dalam keterangannya usai sidang di PN Jakarta Selatan (19/1), Gayus menyebutkan nama Cirus Sinaga. Gayus mengacunya sebagai seorang jaksa yang memiliki keterlibatan dengan mafia hukum di negeri ini.

Gayus berhubungan dengan Cirus saat dirinya menjadi terdakwa dalam kasus penggelapan uang pajak Rp 395 juta di PN Tangerang. Saat itu Cirus adalah ketua tim jaksa peneliti berkas dan anggota jaksa penuntut umum. Kerjasama ini, di samping beberapa kolaborasi gelap dengan penegak hukum lainnya, berbuah manis karena kemudian Gayus diputus bebas pada 12 Maret 2010 oleh Ketua Majelis Hakim Muhtadi Asnun, yang juga Ketua PN Tangerang.

siapa-cirus-sinaga

Ada dua peran Cirus dalam kasus Gayus di PN Tangerang ini seperti yang di lansir tv online

Pertama, keterlibatannya dengan penegak hukum lain dalam merekayasa pengenaan pasal pidana terhadap Gayus, dari semula kasus pencucian uang dan korupsi menjadi penggelapan uang pajak. Hal ini merupakan kesaksian dari mitra Cirus dalam rekayasa tersebut, yaitu Kompol M Arafat Enanie, AKP Sri Sumartini, dan beberapa aparat hukum lain. Jadi, kongsi ini bersepakat tidak menindaklanjuti korupsi sebesar Rp 28 miliar yang diduga dilakukan Gayus.

Peran kedua, Gayus mengaku memberinya uang 50 juta dolar AS sebagai imbalan atas perubahan surat rencana tuntutan jaksa menjadi lebih ringan. Dengan demikian, kasus melawan Gayus jadi lebih lemah lagi.

Dalam pernyataan yang meyudutkan Satgas Pemberantasan Mafia Hukum minggu lalu, Gayus menyebut Satgas enggan menindaklanjuti keterangannya tentang keterlibatan Cirus dalam perkaranya, padahal ini bisa membongkar mafia hukum dengan Cirus sebagai salah satu pelakunya (yang ia sebut adalah rekayasa kasus hukum mantan Ketua KPK Antasari Azhar dalam pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen).

Keterlibatan Cirus dalam jejaring jahat para penegak hukum memang tampak jelas. Lihat saja, status Cirus yang awalnya menjadi tersangka (bersama Kompol Arafat dan AKP Sri Sumartin serta beberapa jaksa lain) diubah hanya menjadi saksi oleh pihak kepolisian, padahal para tersangka lain (sekarang menjadi terpidana) telah bersaksi akan keterlibatan Cirus.

Bahkan, Cirus telah mendapat sanksi dari Kejaksaan Agung (Kejagung) karena menghapus pasal korupsi bagi Gayus di PN Tangerang. Selain Cirus, jaksa lainnya adalah Fadil Regan, Ika Syafitri Salim, dan Eka Kurnia Sukmasari.

Jadi, tidak butuh analisis panjang untuk mengetahui keterlibatan Cirus. Sebagai jaksa senior, ia berperan penting dalam permainan kasus Gayus di PN Tangerang. Seperti terungkap dalam persidangan dengan terdakwa para penegak hukum, Cirus lah yang menulis skenario, menjadi sutradara, dan ikut bermain dalam komedi hitam mafia hukum.

Selain merekayasa dakwaan terhadap Antasari (sebagaimana dituduhkan Gayus dan para pengacara Antasari), Cirus juga mendapat perhatian publik saat bertugas sebagai Ketua JPU dalam kasus pembunuhan Munir dengan terdakwa Muchdi Pr. Dalam kasus di PN Jakarta Selatan ini, Surat Dakwaan jaksa dinilai lemah sehingga mantan Deputi V BIN itu akhirnya diputus bebas oleh majelis hakim. Saat itu, banyak aktivis yang menuding ada “sterilisasi” dakwaan sehingga dakwaannya lemah. Sepertinya, rekayasa dakwaan adalah hal terbaik yang bisa dilakukan jaksa untuk punya uang sebanyak mungkin.

Surat Dakwaan bisa disebut sebagai “nyawa” dalam suatu kasus sejak di tingkat pertama (PN). Bila terdakwa atau penuntut tidak puas dengan keputusan PN dan mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi, lalu mungkin kasasi ke MA, dan mungkin juga Peninjauan Kembali, yang dipakai sebagai acuan oleh majelis hakim di tiga proses tersebut adalah Surat Dakwaan yang sama. Sehingga, bila konstruksi kasus dalam dakwaan itu tidak logis, pasal yang dikenakan tidak selaras dengan bukti-bukti yang kuat, jalan terdakwa (dan pengacaranya) lebih mudah dalam tahap-tahap peradilan berikutnya, betapa pun ada banyak hal yang memberatkan terdakwa. “Ketidakcermatan” atau “kebodohan” dalam membuat dakwaan adalah spesialisasi jaksa kaya-raya. TV online berita bisa di liha di www.algitv.com